Masa Lalu Fungsi Gigi dan Mulut Hanya Pengunyahan


Menengok pada masa lalu, fungsi gigi dan mulut sangatlah sederhana yaitu hanya untuk pengunyahan. Karena itu teori tentang munculnya tonjol gigi manusia dari Osborn (1967) mendukung bahwa gigi mempunyai tugas pokok sebagai alat pengunyah, sebab adanya tonjol gigi maka makanan mudah dilembutkan.

”Sejauh ini fungsi gigi dan mulut membantu untuk bertutur masih dalam penelitian yang mendalam,” ujar Dekan Fakultas Kedokteran Gigi UGM Yogyakarta, Prof Dr drg Munakhir Mudjosemedi SU SpRKG, ketika menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada Fakultas Kedokteran Gigi UGM

.

Menurut Prof Munakhir, berbagai penyakit pada wilayah ini dapat disebutkan seperti berkurangnya cairan mulut akibat terganggunya kelenjar ludah, yang berakibat berkurangnya suatu elemen dalam air ludah.

Implikasinya antara lain terganggunya keseimbangan flora mulut, halitosis, sulit menelan makanan, serta kurang lancarnya dalam olah berbicara. Bila cairan berlebih juga akan banyak berpengaruh pada rasa kepercayaan diri karena terganggunya aktivitas seseorang.

Dahulu masyarakat pedesaan dalam merawat kesehatan gigi dan mulutnya sangat sederhana yakni hanya dengan berkumur dan menggosok gigi dengan abu sekam, batu bata merah yang dihaluskan dan di berbagai tempat dengan cara menginang dapat juga membantu membersihkan mulut.

Tetapi kebiasaan menginang yang umumnya dilakukan oleh wanita kini mulai ditinggalkan. Masyarakat pedesaan bila mempunyai gigi berlubang umumnya minta dicabut saja, karena takut akan sakit gigi lagi dan gigi yang berlubang cukup diisi dengan kertas timah, gambir bahkan diisi dengan bubuk ragi.

Dikatakan oleh Prof Munakhir, penyakit pada jaringan lunak dan keras seperti stomatitis, luka pada gusi, lidah yang seperti terbakar, luka pada sudut bibir, bibir sumbing dan pada langit-langit bercelah, tumor pada tulang rahang masih kurang mendapatkan perhatian.

Archer (1966) melaporkan bahwa satu dari 1.200 kelahiran terdapat kasus bibir sumbing, sedangkan laporan terbaru jauh lebih tinggi lagi yakni satu dari 600 kelahiran. Beberapa laporan menyebutkan bahwa insidensi bibir sumbing di Indonesia seperti di NTT dan Kalimantan cukup besar.

Penyakit lainnya adalah penyakit jaringan periodontal yang mempunyai frekuensi masih cukup tinggi di Indonesia. Diperkirakan dengan adanya mutasi berbagai bakteri yang ada di air ludah maka penyakit periodontal akan semakin muncul.

Dan juga merawat gigi yang tumbuhnya tidak teratur bari beberapa tahun belakangan ini mulai populer. Fenomena itu disebabkan perubahan paradigma bahwa gigi mempunyai peran ganda dari fungsi utamanya, tetapi belakangan lebih menonjol sebagai fungsi estetis dari pada pengunyahan.

Fenomena itu perlu mendapat perhatian para dokter gigi, sebab implikasi dari perubahan tersebut akan menyebabkan esensi fungsi gigi untuk membantu proses penghalusan makanan akan semakin berkurang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s