Periodonsia

Splin merupakan alat yang dibuat untuk menstabilkan atau mengencangkan gigi-gigi yang goyang akibat suatu injuri atau penyakit. Indikasi penggunaan splin periodontal yaitu adanya kegoyangan gigi yang mengakibatkan gangguan kenyamann pasien, adanya migrasi gigi dan untuk kepentingan prostetik yang memerlukan gigi penyanggga yang banyak (Soeroso, 1996: Newman et al., 2002).
Perawatan splin periodontal digunakan pada keadaan kegoyangan gigi akibat berkurangnya tinggi tulang alveolar, sehingga kegoyangan tersebut mengganggu fungsi penderita. Namun apabila terdapat peningkatan kegoyangan gigi dengan ligamen periodontal normal, dan kegoyangan tersebut tidak menggangu fungsi pengunyahan atau kenyaman penderita maka keadaan tidak membutuhkan splin (Soeroso, 1996). Hal-hal yang harus dipertimbangkan pada saat mengindikasikan penggunaan splin periodontal pada penatalaksanaan gigi goyang adalah sebagai berikut: (1) besarnya kehilangan jaringan pendukung; (2) perubahan kualitas jaringan pendukung yang disebabkan trumatik oklusi, (3) trauma jangka panjang karena perawatan periodontitis dan (4) kombinasi dari ketiga butir di atas (Prayitno, 1997; Bernal et al., 2002).

Gigi goyang merupakan manifestasi klinik kelainan jaringan periodontal, khususnya dengan pembentukan poket periodontal yang dapat menyebabkan kegoyangan gigi (Prayitno, 1997). Derajat kegoyangan gigi ditentukan oleh 2 faktor yaitu tinggi jaringan pendukung dan lebarnya ligamen periodontal. Kegoyangan gigi dapat terjadi akibat berkurangnya tinggi tulang alveolar atau karena pelebaran ligamen periodontal, dapat terjadi pula akibat kombinasi dari keduannya. Kegoyangan gigi juga terjadi karena kerusakan tulang angular akibat kerandangan atau penyakit periodontal lanjut. Trauma oklusi juga dapat memperberat kehilangan perlekatan dan bertambahnya kerusakan tulang serta meningkakan kegoyangan gigi (Soeroso, 1996).Splin periodontal dibedakan dalam beberapa macam tergantung dari waktu dan bentuk pemakaiannya. Berdasarkan wakatu pemakaian, splin periodontal dapat bersifat temporer (sementra), semi permanen dan permanen (tetapa). Bentuk splin dapat berupa splin cekat dan lepasan, dalapat diletakkan ekstraoral maupun intrakoronal (Soeroso, 1996). Perawatan menggunakan metode splinting dapat diaplikasikan dengan pemakaian bonded eksternal, intrakoronal, atau secara tidak langsung dengan menggunakan restorasi logam yang menghubungkan gigi secara bersama-sama untuk mencapai kestabilan gigi (Newman et al., 2002).

Splin Periodontal Permanen
Pemakaian splin permanen merupakan bagaian dari fase restorasi atau fase rekonstruksi dari perawatan periodontal. Splin permanen sangat terbatas penggunaannya. Hanya digunakan bila benar-benar dipergunakan untuk menambah stabilitas tekanan oklusal dan menggantikan gigi-gigi yang hilang. Selain menstabilkan gigi yang goyang, splin ini juga harus mendistribusikan kekuatan oklusi, mengurangi serta mencegah trauma oklusi, membantu penyembuhan jaringan periodontal dan memperbaiki estetika (Soeroso, 1996).

Penggunan splin permanen pada umumnya dikaitkan dengan protesa periodontal. Splin ini hanya dapat dibuat beberapa bulan setelah terapi periodontal dan kesembuhannya sudah sempurna serta harus memperhatikan intonasi pasien. Tujuan utamanya adalah memperoleh fungsi kunyah yang lebih efektif, dalam hal ini tidak harus mengganti seluruh gigi geligi (Prayitno, 1997).

Splin permanen dapat berupa splin lepasan eksternal atau splin cekat internal. Splin permanen lepasan eksternal ini desainnya merupakan bagian dari gigi tiruan kerangka logam. Splin lepasan tidak boleh digunakan pada gigi-gigi goyang yang mempunyai tendensi untuk bermigrasi, apalagi splin tersebut hanya digunakan pada malam hari. Pemakaian splin permanen lepasan pada keadaan tidak bergigi dapat dikombinasikan dengan gigi tiruan (Soerosso, 1996).

Splin permenen cekat internal merupakan splin yang paling efektif dan tahan lama. Splin ini merupakan penggambungan dari restorasi yang membentuk satu kesatuan rigid dan direkatkan dengan penyemanan, jumlah gigi yang diperlukan untuk menstabilkan gigi goyang tergantung pada derajat kegoyangan dan arah kegoyangan. Jumlah gigi tidak goyang yang diikutsertkana dalam splinting, tergantung pada masing-masing konsisi penderita. Bila terdapat kegoyangan lebih dari satu gigig dapat digunakan beberapa gigi untuk stabilisasi (Soeroso, 1996).

Splin Periodontal Semi Permanen
Indikasi splin semi permanen adalah untuk kegoyangan gigi yang sanngat berat yang mengganggu pengunyahan dan dipergunakan sebelum dan selama terapi periodontal. Kadang-kadang alat retensi ortodonsi juga dapat dianggap sebagai splin semi permanen. Untuk gigi-gigi anterior, bahan yang sering digunakan pada splin semi permanen cekat adalah kompist resisn (light cure). Pada gigi –gigi posterior, splin semi permanen ditujukan untuk gigi-gigi goyang berat yang harus menerima beban kunyah. Splin ini digunakan sebelum, selama dan sesudah terapi periodontal karena prognosisnya belum pasti (Prayitno, 1997).

Splin Periodontal Sementara
Peran splin sementara adalah untuk mengurangi trauma pada waktu perawatan. Splin periodontal digunakan untuk: (1) menentukan seberapa besar peningkatan kegoyangan gigi terhadap respon perawatan, (2) menstabilisasi gigi selama skaling dan root planning, oklusal adjustment, dan bedah periodontal, (3) menjadi penyangga pada kasus pergerakan gigi minor, (4) memberikan stabilisasi pada jangka waktu lama untuk yang hilang di saat kegoyangan gigi meningkat atau goyang pada saat melakukan pengunyahan dan (5) digunakan pada gigi yang goyang karena trauma (Schwartz et al., 1995).

Adanya faktor estetik, serat kawat (wire ligature)sebagai splin sementara cekat sudah jarang digunakan. Sebagai gantinya bahan komposit dengan etching. Akrilik bening juga dapat digunakan untuk splinting sementara lepasan (Prayitno, 1997).

Penggunaan splin periodontal sementara juga dapat digunakan pada kondisi-kondisi tertentu pada kasus splin permanen tidak bisa digunakan karena status ekonomi dan status kesehatan pasien yang buruk, kasus gigi dengan prognosis yang meragukan dan prosedur splin cekat yang rumit tidak bisa dilakukan, serta karena alasan waktu yang tidak cukup untuk pemasangan splin permanen (Schwartz et al., 1995).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s